Masalah utama dalam distribusi hasil pertanian di negara tropis seperti Indonesia adalah tingginya angka kehilangan hasil (post-harvest loss) yang terjadi selama perjalanan. Sayuran dan buah-buahan adalah komoditas yang sangat cepat rusak karena kadar airnya yang tinggi dan laju respirasi yang terus berjalan setelah dipanen. Di sinilah peran cold chain logistik menjadi sangat krusial. Sistem ini bukan sekadar pengangkutan biasa, melainkan sebuah ekosistem distribusi yang menjaga suhu tetap rendah dan stabil dari titik panen di desa hingga sampai ke tangan konsumen di kota. Tanpa sistem yang mumpuni, kesegaran produk tani akan hilang hanya dalam hitungan jam.
Penerapan rantai dingin dimulai sejak tahap prapendinginan (pre-cooling) di lokasi asalnya. Begitu sayuran dipetik oleh petani di desa, panas lapangan harus segera dihilangkan untuk memperlambat proses pembusukan alami. Hal ini dilakukan dengan memasukkan produk ke dalam ruang pendingin khusus atau menggunakan truk berpendingin yang sudah diatur suhunya. Dalam konteks sayuran desa ke kota, tantangan geografis sering kali menjadi penghambat. Jarak yang jauh dan infrastruktur jalan yang tidak menentu mengharuskan unit pendingin tetap beroperasi secara konsisten tanpa terputus, karena fluktuasi suhu sedikit saja dapat memicu pertumbuhan jamur dan bakteri.
Logistik yang cerdas dalam sistem ini juga melibatkan teknologi pemantauan jarak jauh berbasis IoT (Internet of Things). Setiap armada pengangkut dalam jalur cold chain logistik kini dapat dilengkapi dengan sensor suhu yang memberikan data secara real-time kepada pusat kendali. Jika suhu di dalam wadah meningkat di atas ambang batas yang ditentukan, sistem akan memberikan peringatan dini sehingga tindakan korektif dapat segera diambil. Hal ini memberikan jaminan bagi pelaku usaha bahwa kualitas produk mereka tetap terjaga selama perjalanan. Keamanan pangan bukan lagi sekadar janji, melainkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Manfaat dari terjaganya rantai dingin ini sangat dirasakan oleh para petani di pedesaan. Dengan daya simpan yang lebih lama, jangkauan pasar mereka menjadi lebih luas. Produk yang dulunya hanya bisa dijual di pasar lokal terdekat karena takut cepat layu, kini bisa dikirim ke supermarket besar di kota-kota besar dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. Selain itu, sistem ini membantu menstabilkan harga pasar. Saat produksi melimpah, sayuran tidak perlu dibuang atau dijual dengan harga sangat murah; mereka dapat disimpan dalam gudang pendingin untuk dikeluarkan saat permintaan pasar sedang meningkat.