Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) adalah pendekatan krusial dalam pertanian berkelanjutan, dan untuk keberhasilannya, meningkatkan keterampilan petani menjadi fokus utama. PHT menuntut lebih dari sekadar penyemprotan pestisida; ia memerlukan pemahaman ekosistem, observasi cermat, dan pengambilan keputusan yang tepat. Oleh karena itu, pelatihan langsung di lapangan adalah metode paling efektif untuk meningkatkan keterampilan petani dalam menerapkan PHT. Pada Jumat, 14 November 2025, dalam sebuah field school PHT di lahan padi Desa Subur Makmur, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Bapak Ir. Slamet Widodo, seorang pakar hama penyakit tanaman dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), menegaskan, “Meningkatkan keterampilan petani melalui praktik langsung adalah kunci utama keberhasilan PHT di tingkat akar rumput.” Pernyataan ini didukung oleh data hasil pengamatan hama dan penyakit dari 70 kelompok tani di wilayah tersebut per Oktober 2025, yang menunjukkan penurunan penggunaan pestisida kimia hingga 35% setelah mengikuti pelatihan.
Salah satu cara pelatihan langsung PHT meningkatkan keterampilan petani adalah dengan mengajarkan mereka cara mengidentifikasi hama dan penyakit secara dini. Petani diajarkan untuk melakukan pengamatan rutin di lahan, mengenali gejala serangan, dan membedakan antara hama dan musuh alami. Mereka juga belajar cara menghitung populasi hama untuk menentukan apakah ambang batas ekonomi telah terlampaui sebelum tindakan pengendalian diambil. Misalnya, pada pukul 09.00 WIB di hari field school tersebut, para petani dilatih cara menggunakan light trap sederhana untuk memantau populasi ngengat penggerek batang padi, serta cara mengidentifikasi telur dan larva di daun padi varietas unggul Ciherang.
Selain identifikasi, pelatihan langsung juga fokus pada teknik pengendalian non-kimiawi. Ini termasuk penggunaan agen hayati (musuh alami hama), pestisida nabati buatan sendiri, teknik budidaya yang mengganggu siklus hidup hama, dan sanitasi lahan. Petani diajarkan cara membiakkan predator alami, membuat ekstrak tumbuhan sebagai pestisida, atau mengatur jadwal tanam untuk menghindari puncak serangan hama. Hal ini secara signifikan meningkatkan keterampilan mereka dalam mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan. Seorang petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan demonstrasi langsung cara membuat pestisida nabati dari ekstrak daun mimba.
Peran instruktur dan penyuluh yang berpengalaman sangat vital dalam memfasilitasi pelatihan langsung ini. Mereka tidak hanya memberikan teori, tetapi juga membimbing petani dalam praktik, menjawab pertanyaan, dan membantu menganalisis kondisi spesifik di lahan masing-masing. Pelatihan ini juga sering diselenggarakan dalam format kelompok belajar, di mana petani dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Sebuah laporan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 1 September 2025, merekomendasikan pemerintah untuk memperbanyak program field school PHT di sentra-sentra produksi pertanian. Dengan pelatihan langsung yang efektif, petani dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan mereka dalam menerapkan PHT, menciptakan pertanian yang lebih aman, lestari, dan produktif.